Pelaksanaan UN 2008

Pelaksanaan UN untuk tingkat SMA / SMK di Banjarbaru…, boleh dikatakan sukses…., meskipun di sana sini masih terdapat kendala…, namun masih dapat diatasi secara bersama-sama. Disini saya ingin menyoroti tentang adanya oknum pejabat dari pendidikan yang seenaknya menyalahkan pengawas-pengawas ruangan, pada saat terjadinya kesalahan soal yang di UN kan. Alangkah bijaknya bila pejabat tersebut bisa menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata atau perbuatan yang kurang etis di dengar dan dilihat oleh dewan guru se Banjarbaru, dan seharusnya memikirkan cara pemecahannya gimana ?.  Memang mudah jika kita semua mengoreksi kesalahan orang lain…., semudah membalikkan telapak tangan. Bila kita teliti secara seksama, soal UN itu datangnya dari mana? Yang ngepak atau yang memasukkan ke dalam amplop itu siapa ? Amplop dalam keadaan di segel. Sekarang kita lihat pengawas ruangan, dia bertugas menjaga ketertiban peserta, mengedarkan soal dengan soal dalam keadaan tertutup/terbalik…, mana sempat untuk mengoreksi satu persatu soalnya, dan soal dibuat pas, jadi pengawas mana sempat mengoreksinya. Apa boleh pengawas mengoreksi soalnya dahulu ? apa ndak terindikasi dapat membocorkan atau memberitahu jawaban ke peserta UN ? Padahal soal ini,  RAHASIA NEGARA …!! . Namun kejadian ini sudah berlalu, semoga tahun yang akan datang lebih baik lagi….., semoga dapat diambil hikmahnya….

wassalam

pemerhati pendidikan

Gimana Nasib Dikau Umar Bakriku….

Kota Banjarbaru merupakan kota pendidikan…., keberhasilan pendidikan di kota yang kita banggakan ini bergantung dari banyak faktor. Antara lain dari pihak siswa itu sendiri, keluarganya, lingkungannya, sekolahnya (pendidiknya, sarana dan prasarananya). Di sini kami hanya menyoroti tentang pendidiknya…., sebaiknya semua pihak jangan selalu menyalakan pendidiknya…, jika ada anak didiknya yang nggak berhasil, mengingat pendidiknya juga manusia biasa…., yang juga perlu untuk mencukupi segala kebutuhan sehari-harinya…., untuk makan, pakaian, pendidikan anak, dll. Meskipun sekarang kita ketahui ada tambahan penghasilan rata-rata tiga ratus ribu…, namun kenyataan di lapangan uang sebesar itu tidak ada artinya apa-apa, di banding mulai merangkaknya harga kebutuhan sehari-hari….., (Bandingkan guru di Jepang 1 bulannya ada yang di gaji 10 s/d 20 jt).

Dari dulu sampai sekarang nasib seorang guru di Indonesia ini, belum maksimal di perjuangkan…, hanya di nina bubukkan dengan kata “bersabar aja” atau “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.

Oleh karena itu jika pendidikan di kota ini ingin berhasil, perhatikan nasib guru kita…., perhatikanlah anak-anak yatim, fakir miskin, dan anak-anak jalanan….yang sehari-harinya belum tentu bisa makan….., KEMBALILAH KE JALAN ALLAH…., TIDAKKAH ENGKAU LIHAT DALAM DIRIMU…ADA SIFAT-SIFAT ALLAH…, YANG PENYANTUN…, YANG PENYAYANG…., mengapa dalam dirimu ada sifat sombong….padahal itu sifat milik ALLAH….

Saya di sini cuman bisa mengetuk hati nurani Bapak/Ibu …. di semua lini…., di mana saja…..

wassalam

Pemerhati Pendidikan